Rabu, 19 Desember 2018

Peran ibu dalam pendidikan di keluarga

  1. Wanita sebagai ibu
Anak adalah amanah dan titipan dari Allah SWT yang harus kita jaga. Mendidiknya merupakan suatu kewajiban BUKAN pilihan. Rasulullah saw bersabda:
Didiklah anakmu dan baguskanlah akhlaqnya, dengan mengajarkan mereka olah jiwa, dan memperbaiki akhlaq.”(HR. ad-Dailami)
Ibu merupakan madarasah pertama  (Al -Ummu madrasah Al-ula) dan  guru pertama bagi anak-anaknya. Rumah adalah sekolah pertama sebelum anak mengenyam pendidikan di luar rumah dimana anak belajar pada ayah dan ibunya. Tidak banyak yang beranggapan ketika anak sudah bersekolah maka sekolah yang bertanggung jawab atas pendidikannya. Padahal peran ibu tidak dapat tergantikan oleh siapapun. Ibu memiliki peran lebih dari sekolah yaitu membangun kecerdasan emosional anak bahkan membangun kecerdasan spiritual anak.
Untuk mendukung proses pembelajaran anak di rumah maka orang tua perlu menciptakan situasi rumah yang menyenangkan, suportif dan kondusif untuk belajar.  Sehingga anak merasakan rumah sebagai tempat yang nyaman, aman dan penuh kasih sayang bagi mereka, bukan sebagai tempat yang menyeramkan dan membosankan sehingga anak lebih memilih untuk menghabiskan waktu mereka diluar dan lebih merasa nyaman berada di sekitar lingkungan teman-temannya daripada orangtuanya sendiri.
Ibu merupakan seorang figur yang akan menjadi contoh bagi anak-anaknya. Perilaku orang tua, terutama ibu, akan ditiru yang kemudian akan menjadi panduan perilaku sang anak. Dengan kedekatan fisik dan emosionalnya dengan anak-anaknya yang sudah terjalin secara alamiah dari sejak mengandung, ibu akan menjadi faktor utama yang akan menentukan kepribadian dan karakter anaknya. Oleh sebab itu, hendaknya orang tua harus memberikan kasih sayang kepada anaknya dan menjadi contoh yang positif bagi anak-anaknya dengan menunjukkan akhlak yang mulia dan menjadi perisai bagi anaknya dari pengaruh lingkungan yang buruk.
Bila anak kehilangan figur seorang ibu, maka ia akan mengalami deprivasi maternal (perampasan kasih sayang ibu). Hal ini akan menyebabkan terjadinya gangguan attachment disorder (gangguan kedisiplinan) atau Failure to Thrive (kegagalan pertumbuhan kejiwaan). Akibatnya, sang anak menjadi murung, tidak ceria, putus asa dan kehilangan motivasi hidup.
Kondisi deprivasi maternal beresiko mengalami gangguan perkembangan mental intelektual dan emosional. Terkadang ketika dewasa akan anak kelak akan memperlihatkan perilaku penyimpangan, anti sosial, bahkan kriminal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar